Categories
Pendidikan

Latihan Menulis Cerita Fiksi Untuk Pembelajaran 

Latihan Menulis Cerita Fiksi Untuk Pembelajaran 

Latihan Menulis Cerita Fiksi Untuk Pembelajaran 


Menemukan Ide Cerita

Beberapa pemula terkadang kesulitan menemukan ide cerita. Kita dapat melakukan ini dengan berbagai cara untuk memperkaya gagasan yang akan ditulis. Pertama, periksa fakta atau jaminan yang terjadi di lingkungan kita untuk melakukan pengamatan dan pengamatan masalah yang ada. Metode di atas dapat dilakukan dengan membaca sejumlah besar buku atau mengunduh materi dari Internet untuk memperkaya pengetahuan kita. Kedua, ciptakan dan bayangkan dengan memproses dan mengkritik fakta atau nilai yang ada. Untuk alasan ini, sangat penting untuk mengidentifikasi ide cerita yang kita ketahui dan sering temukan di sekitar kita.

Menurut Steven James (Liliani: 2007) ia menulis LIFE untuk mengeksplorasi ide. L- Literature (pengayaan membaca), I- Imagination (pengayaan imajinasi), F-Folklore (pengerjaan ulang cerita rakyat) dan E-Experience (menggunakan pengalaman). Penulis cerita dapat menemukan ide dari berbagai sudut. Agar lebih menarik, cerita rakyat untuk diproses atau dikemas ulang juga bisa dimulai dengan menggunakan boneka, kethoprak.

Mengembangkan Ide Cerita

Ketika Anda mulai mengembangkan ide, serangkaian pertanyaan tentang keterampilan menulis atau membaca mungkin muncul. Pertanyaan pertama dapat dimulai dari kata apa (latar belakang, konflik, apa yang ingin Anda sampaikan, dll.). Pertanyaan kedua dengan kata siapa (siapa tokohnya, aktor dalam cerita, pembaca). Ketiga kalinya (ketika itu terjadi, baca). Tempat keempat (di mana pengaturannya). Alasan kelima (mengapa masalah terjadi / menyebabkan masalah). Keenam, bagaimana (cara melacak, efek, kesesuaian, dan daya tarik).

Buat Cerita Menarik

Kisah ini dikatakan menarik jika dapat mengesankan pembaca. Ada beberapa elemen untuk mengembangkan cerita yang menarik. Pertama, pilih tema yang cocok untuk audiens target Anda. Jika pembaca adalah remaja, pilih topik yang sesuai dengan usianya, gaya hidup, atau gayanya. Kedua, pembentukan karakter bulat menjadi karakter. Ini berarti bahwa karakter dapat membawa karakter khusus yang dapat berdampak pada pembaca. Ketiga, konflik harus menarik dan tidak terlalu. Pesan / informasi harus sampai ke pembaca setelah setiap konflik disajikan dalam cerita. Setelah membaca, pembaca diharapkan mengambil pelajaran positif dari konflik dalam cerita. Keempat, akhir atau puncak cerita disajikan tanpa diketahui oleh pembaca. Pembaca yang kritis akan sering memprediksi akhir cerita, sehingga penulis harus dapat menawarkan sesuatu yang tidak terduga dari pembaca.

 

Baca Juga Artikel Lainnya :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *